Kembali ke Blog Back to Blog
personalfokusmedia-sosial

Kembali ke Deep Work: Saya Menutup Media Sosial

· 7 min read ID

Awal Agustus lalu saya posting satu cerita di TikTok, soal mini PC di rumah dan beberapa agent yang saya jalankan di mini PC tersebut. Sebelumnya saya sudah beberapa kali posting dan hasilnya biasa saja. Yang ini tembus, jauh di atas yang saya bayangkan untuk akun kecil yang cuma saya pakai buat personal branding.

Sejak itu ada satu gerakan yang saya ulang terus tanpa pernah saya niatkan. Buka aplikasi, lihat ikon merah notifikasi, tutup lagi. Beberapa menit kemudian buka lagi.

Bukan untuk membaca komentarnya. Cuma untuk melihat angkanya naik.

Postingan yang akhirnya jalan

Postingan itu saya siapkan serius. Saya pelajari dulu psikologinya: kenapa orang mau berhenti di detik pertama dan lanjut nonton di detik kedua, kenapa foto yang berantakan lebih dipercaya daripada foto yang rapi, kenapa kalimat yang kedengarannya tidak masuk akal justru bikin orang bertahan sampai penjelasannya keluar. Saya kerjakan itu seperti kerjaan teknis biasa: ada target, ada variabel, ada yang bisa dioptimalkan.

Hasilnya 100k views, 2.878 likes, 1.221 saves, ratusan komentar, dan banyak orang mampir ke profil saya. Sampai sekarang angkanya masih naik, walaupun kenaikannya sudah jauh lebih pelan.

Yang tidak saya perhitungkan justru apa yang terjadi setelahnya. Kenaikan yang pelan itu bikin saya mengecek berulang-ulang. Setiap kali saya buka, selalu ada yang bertambah sedikit. Tidak pernah kosong, tidak pernah mengecewakan.

Waktu menyiapkan postingannya, yang saya pikirkan cuma bagaimana caranya menahan perhatian orang. Tidak pernah terpikir kalau yang tertahan nanti perhatian saya sendiri.

Padahal saya bukan orang media sosial

Saya baru agak terbuka ke media sosial setelah lulus kuliah dan mulai bekerja di Jakarta. Sejak itu aplikasinya memang ada di HP saya, biasanya saya install pas weekend. Tapi tetap saja jarang saya buka.

Bukan karena saya disiplin. Saya cuma memperlakukan media sosial seperti rumah sendiri, dan isi rumahnya suka-suka saya.

Yang saya follow cuma akun yang bahas hal yang saya suka, kebanyakan programming, sisanya hal-hal lucu. Teman sendiri jarang saya follow, dan saya sendiri juga follow beberapa orang yang tidak follow balik. Buat saya itu normal saja, tidak ada kewajiban follow siapa-siapa.

Karena isinya saya pilih sendiri, feed saya tidak pernah jadi tempat yang bikin betah berlama-lama. Tidak ada orang marah-marah, tidak ada politik. Tidak ada yang menahan saya di sana, jadi menutup aplikasinya tidak pernah butuh usaha.

Belakangan fungsinya memang agak bergeser. Follow sekarang lebih sering jadi penanda bahwa saya kenal orangnya. Belum lama ini ada yang DM ke saya, “Sombong bener pak baru folback.” Saya kenal dia sejak 2022, dan memang baru saya follow di 2026.

Sebaliknya, ada juga yang saya unfollow. Bukan karena saya punya masalah dengan orangnya, orangnya baik-baik saja. Postingannya saja yang menurut saya kurang cocok mengisi feed saya. Buat saya itu dua hal yang berbeda, dan yang saya jaga memang isi feednya, bukan daftar orangnya.

Tapi pergeseran itupun belum pernah bikin saya betah lama-lama di sana.

Ternyata yang akhirnya menahan saya bukan konten orang lain.

Yang menahan saya justru angka di postingan saya sendiri. Berapa yang nonton, berapa yang komentar, berapa yang follow. Itu bukan hiburan, itu laporan soal kerja saya sendiri. Dan laporan soal kerja sendiri jauh lebih susah ditinggalkan.

Saya bikin akun ini buat kerja, bukan buat hiburan. Niatnya cuma supaya orang tahu saya software engineer. Ternyata dari situ juga saya kena.

Yang hilang, dan yang ternyata baik-baik saja

Saya tidak akan bilang produktivitas saya hancur. Tidak sedramatis itu, dan saya juga tidak punya angkanya.

Yang bisa saya tunjuk cuma satu potong waktu: jeda antara kerja selesai dan sesi belajar malam. Jeda itu memang jatah istirahat, dan istirahat itu perlu. Tapi fungsinya dulu mengantar saya ke jam berikutnya, jam yang biasanya saya pakai belajar sesuatu yang baru. Sekarang jeda itu isinya scroll, dan jam berikutnya sering tidak jadi datang. Bukan karena saya memutuskan tidak belajar. Cuma lewat begitu saja.

Yang hilang sebenarnya bukan jamnya. Jamnya masih ada. Yang hilang kemampuan bertahan di satu hal cukup lama sampai materinya mulai masuk. Sesi belajar yang bagus butuh menit-menit pertama yang membosankan, dan menit-menit itu sekarang gampang sekali saya tukar dengan sesuatu yang langsung terasa enak. Itu yang biasanya orang sebut deep work, dan itu bagian yang hilangnya paling tidak terasa.

Anehnya, tidak semuanya rusak. Instagram dan Threads masih aman. Saya jarang buka, dan kalaupun buka tidak ada yang menahan saya di sana.

Yang lebih aneh lagi, di depan orang saya hampir tidak kena. Nongkrong ngopi sama teman bisa berjam-jam. HP tetap saya cek sesekali, tapi cuma sebentar lalu balik lagi ke obrolan. Tidak ada dorongan buat buka-tutup terus seperti waktu saya menunggu angka naik. Mungkin karena dari dulu memang begitu, jadi tidak ada yang perlu saya usahakan.

Jadi masalah saya bukan “media sosial”. Masalah saya satu aplikasi, dan satu jenis angka. Kalau saya samaratakan jadi masalah besar, obatnya juga bakal salah.

Aturan mainnya

Aplikasinya sudah saya hapus dari HP waktu tulisan ini dibuat. Tapi akunnya masih saya pakai. Bukan karena dituntut pekerjaan, cuma karena masih ada hal yang sesekali ingin saya bagikan ke sana. Jadi aturannya tidak bisa “matikan semua” seperti tulisan detoks pada umumnya.

  1. Berhenti nonton, total. FYP, feed, notifikasi, semua. Bagian ini tidak ada pengecualiannya.
  2. Posting masih boleh, tapi sesekali saja. Saya memang jarang posting, jadi jujur saja, ini bukan pengorbanan. Saya cuma tidak mau pura-pura berhenti total padahal akunnya tetap jalan.
  3. Kolom komentar saya serahkan ke Hermes, AI agent yang saya pakai sehari-hari. Ini bagian yang paling saya curigai sendiri.
  4. Jeda setelah kerja dikembalikan ke tempatnya. Kerja saya selesai jam enam, dan jeda itu biasanya jalan sampai setengah delapan. Isinya terserah, yang penting ujungnya mengantar saya ke sesi belajar malam seperti dulu. Ini satu-satunya aturan yang sifatnya mengganti, bukan menghapus.
  5. Setiap kali saya melanggar, saya catat. Tidak dihukum, cuma dicatat: jam berapa, sedang menunggu apa, mencari angka apa. Yang saya butuhkan polanya, bukan skornya.

Poin terakhir kelihatannya remeh, tapi itu yang paling saya butuhkan. Bikin aturan gampang. Yang susah itu jujur waktu aturannya bocor. Kalau pelanggarannya tidak dicatat, yang tersisa di ingatan saya nanti cuma versi diri saya yang berhasil.

Soal berapa lama

Biasanya tulisan seperti ini pakai batas 30 hari, dan awalnya saya mau ikut. Tapi begitu saya tulis angkanya, saya langsung tahu apa yang bakal terjadi: saya cuma akan menunggu tanggal itu.

Kalau ada tanggal selesai, semua harinya berubah jadi ruang tunggu. Yang saya latih bukan hidup tanpa aplikasinya, tapi menahan napas sampai peluitnya bunyi. Itu namanya jeda, bukan perubahan. Habis jeda, semuanya balik ke tempat semula, cuma dengan satu tulisan bagus sebagai oleh-oleh.

Jadi saya tidak pasang hitungannya. Kemungkinan besar ini bakal lama, dan bisa jadi saya tidak kembali ke pola yang sekarang sama sekali. Saya sudah pernah hidup begitu bertahun-tahun dan tidak ingat pernah merasa kehilangan apa-apa. Tapi itu juga bukan janji. Saya lihat saja nanti.

Yang tidak saya janjikan

Tulisan sejenis biasanya berakhir dengan tabel: fokus naik dari 15 menit jadi 2 jam, tidur membaik, hidup berubah. Saya tidak punya tabel itu, dan saya tidak akan mengarangnya sekarang.

Tulisan ini ditulis sebelum apa-apa terjadi. Belum ada hasil.

Saya juga tidak mau kelihatan seperti sedang berjuang keras. Buat saya bagian menghapus aplikasinya itu gampang, karena dari dulu memang jarang saya buka. Yang sebenarnya saya kerjakan cuma satu, memutus kebiasaan mengejar angka tadi.

Satu-satunya yang saya janjikan: catatannya saya tulis apa adanya. Termasuk kalau saya melanggar di minggu pertama, termasuk kalau ternyata tidak ada yang berubah sama sekali.

Yang menggantikan saya di sana

Tujuan saya bikin akun itu supaya orang tahu saya software engineer. Cara kerjanya lewat kehadiran: orang datang, bertanya, saya jawab, lama-lama mereka punya gambaran saya orang seperti apa.

Sekarang saya mau berhenti hadir, tapi tetap mau kehadirannya jalan. Yang membalas komentar Hermes si AI agent, yang menjawab pertanyaan Hermes, yang menyapa orang di sana Hermes.