Kembali ke Blog Back to Blog
personalfokusmedia-sosial

Deep Work Hari Pertama: Refleks yang Belum Ikut Berhenti

· 3 min read ID

Hari pertama, dan seperti dugaan saya sendiri di tulisan sebelumnya: aplikasinya sudah tidak ada, tapi refleksnya belum ikut hilang.

Tanggal 22 kemarin saya baru uninstall semua aplikasi sosial media di HP. Baru hari ini saya logout dari semua akun sosial media saya di laptop, jadi baru sekarang penutupannya benar-benar selesai di kedua perangkat.

Refleks yang belum ikut berhenti

Beberapa kali saya masih menjangkau HP tanpa alasan yang jelas. Bukan buat apa-apa, cuma pengen buka. Begitu layar menyala dan tidak ada notifikasi yang menyambut, saya baru ingat: oh iya, sudah saya hapus. Lalu HP saya taruh lagi.

Paginya saya sarapan sambil nonton TEDx Talks. Bukan pengganti yang saya rencanakan, cuma yang paling gampang saya jangkau waktu tangan ini butuh sesuatu buat ditonton sambil makan.

Musik yang saya dengar sebelum kenal istilah lofi dan binaural beats

Kalau lagi kerja kantor, dari dulu saya memang tidak pernah pakai TWS atau dengar musik sama sekali, walau teman-teman sering dengar musik sambil kerja. Tapi di luar jam kantor, misalnya waktu belajar, saya lebih sering pakai musik. Nah yang saya ubah itu musiknya: sebelumnya saya dengar yang ada liriknya, sekarang saya balik ke yang cuma piano dan violin, musik instrumental saja, seperti dulu. Waktu itu yang saya dengar OST instrumental dari Naruto Shippuuden dan piano dari Costantino Carrara, jauh sebelum saya kenal istilah lofi atau binaural beats.

Saya belum yakin ini bakal saya pertahankan. Bisa jadi ke depannya musik latar ini saya hilangkan sepenuhnya waktu belajar. Bisa juga tetap saya pakai, tergantung apa yang saya temukan soal ini: apakah musik instrumental atau binaural beats di latar belakang benar membantu fokus, atau cuma terasa membantu. Kalau memang efektif, saya lanjutkan. Kalau tidak, saya hilangkan juga.

Dua hal yang mengisi waktu yang tadinya buat sosial media

Ada dua hal yang mau saya lakukan, isi dari waktu yang tadinya saya habiskan buat sosial media.

Pertama, belajar ulang mengetik 10 jari yang benar. Saya sadar selama ini saya mengetik cepat, tapi bukan dengan posisi 10 jari yang semestinya. Saya cuma memaksimalkan jari-jari yang biasa saya pakai, bukan mengikuti posisi yang benar. Sekarang saya mau perbaiki dari dasar.

Baru saja saya coba tes di Monkeytype buat tahu titik awalnya. Tes 50 kata, Bahasa Indonesia dapat 82 wpm dengan akurasi 99%, Bahasa Inggris 69 wpm dengan akurasi 98%. Angka ini jadi patokan awal sebelum saya ubah posisi jarinya. Begitu cara mengetik saya benar, saya yakin wpm-nya bakal naik dari sekarang.

Kedua, saya mulai lirik-lirik belajar IELTS. Untuk percakapan sehari-hari saya sudah cukup nyaman. Yang belum saya coba justru versi Academic-nya, dan itu yang menarik perhatian saya sekarang.

Belum ada yang bisa disimpulkan

Baru hari pertama, jadi saya tidak akan bilang ini sudah berhasil atau belum. Yang saya catat baru gejala-gejalanya: refleks yang belum hilang, musik yang saya coba ganti, dan dua rencana yang belum tentu jalan. Nanti saya lihat lagi di tulisan berikutnya, mana yang benar-benar jalan dan mana yang cuma niat di awal.