Kembali ke Blog Back to Blog
personalcareerwfh

Kerja Dimana vs Kerja Apa

· 2 min read ID

Kemarin ketemu dosen pembimbing saya waktu S1 dulu, di Surabaya. Kebetulan sekarang dia gerak di bidang yang sama dengan yang saya tekuni beberapa tahun terakhir, jadi obrolannya nyambung terus, dari dunia perkuliahan sampai kenapa dia tetap pertahankan status dosen meski udah punya kerjaan lain di luar kampus. Saya lihat sendiri track record-nya udah sampai S3, jadi dekan, dan tetap belajar hal baru. Salah satu alasannya sederhana: biar tetap ada jawaban jelas kalau ditanya orang “kerja dimana.”

Salah satu poin yang nempel di kepala saya dari obrolan itu: WFH ada minusnya, dan bukan soal produktivitas atau distraksi rumah kayak yang biasa dibahas. Minusnya di pertanyaan orang lain.


Ini juga yang sering saya alami sendiri. Ketemu orang, entah kenalan lama atau baru, ujung-ujungnya ditanya “kerja dimana? Kok belum balik? Kok di rumah aja?” Seolah-olah kalau kerja beneran, harusnya ada tempat yang didatangi, dan kalau masih di rumah berarti ada yang belum beres.

Buat mereka, kerja itu sama dengan tempat: ada gedung yang didatangi, ada alamat kantor, ada plang nama perusahaan yang bisa ditunjuk. Kalau saya gak bisa sebutin itu semua, jawaban saya jadi keliatan gak meyakinkan.


Dosen saya bilang, kalau cara mikir soal kerja kamu udah bener, pertanyaan yang muncul itu “kerja apa,” bukan “kerja dimana.”

Kerja apa itu nanya value, nanya kontribusi, nanya skill yang dipakai. Kerja dimana itu cuma nanya lokasi fisik, yang buat pekerjaan remote sebenarnya gak relevan lagi.

Yang penting kamu ngapain. Tempat cuma kebetulan, kerjaan itu pilihan.


Saya jadi mikir ulang, kenapa masyarakat kita masih terpaku ke “dimana.” Mungkin karena kantor fisik itu dulu jadi bukti paling gampang bahwa seseorang “punya kerjaan beneran.” Ada tempat yang bisa didatangi, ada seragam, ada jam masuk-pulang yang keliatan.

WFH ngerusak validasi sosial semacam itu. Gak ada kantor yang bisa ditunjuk, jadi orang lain butuh cara lain buat percaya bahwa kita beneran kerja, bukan cuma nganggur di rumah pakai alasan “remote.”


Setelah obrolan ini, saya jadi punya cara baru buat jawab kalau ditanya “kerja dimana, kok belum balik?” Daripada jelasin alamat atau nama kantor, saya lebih pilih cerita kerjaan saya itu apa. Karena itu yang sebenarnya orang perlu tahu, bukan lokasi saya lagi di mana.

Ini mirip poin yang diangkat David Heinemeier Hansson dan Jason Fried di buku Remote: Office Not Required, kehadiran fisik di kantor gampang disalahartikan sebagai bukti kerja, padahal itu bukan indikator yang tepat. Yang beneran menentukan seseorang kerja atau nggak itu hasilnya, bukan di mana dia duduk waktu ngerjain.